Minggu, 30 Mei 2010

RoSela Gowes ke Cirebon-Kuningan-Waduk Darma-Linggarjati-Cibulan


Dua sahabat RoSela Bang Bimar dan Om Agus Jamaludin liburan akhir bulan Mei ini mengadakan gowes ke daerah Cirebon - Kuningan - Waduk Darma - Linggarjati dan Cibulan bersama Om Slamet sang lagenda pesepeda. Berikut cerita yang ditulis oleh Bang Bimar tentang perjalanan gowes di sana.

Capek tapi senang, nanjak sekaligus menikmati turunan semua jadi satu, mulai start dari Cirebon-Cilimus-Kuningan-Waduk Darma total jarak tempuh 133 km setengahnya mendaki, satu hal yang bisa di ambil di kota Kuningan yaitu sepeda kurang populer!

Bisa bersilaturahmi ke rumah om Agus the doctor "J" Jamaludin di Garawangi, sekaligus mengantar beliau pulkam walau waktunya sedikit hehe, lalu lanjut mandi aer hangat di pemandian Sangkanhurip, Cilimus, bertamasya ke rumah sejarah perjanjian Linggarjati trus lanjut mandi di Cibulan objek wisata kolam 7 sumur, keliling kota Kuningan sambil kulineran kupat tahu mi iroh, makan malam ala kota Kuningan di cafe salsa, mantab lah!

Kuningan memang kota kecil tapi dari kota ini gw mendapat ide untuk next trip tahun ini gowes keliling Jawa Barat & pastinya harus lewat kota Kuningan!

Big thanks to mas Slamet & keluarga
Two thumbs up buat om Agus the doctor "J" Jamaludin beserta keluarga

Kalau ada umur panjang, tahun depan gw pasti ke kota ini lagi, thanks all!


Poto2 bisa di lihat di http://www.facebook.com/album.php?aid=2043121&id=1302515723

NB: gw & om Agus gowes pake sepeda Federal euy!

by : Bimar Sitanggang

Kamis, 18 Februari 2010

Berbagi Jalan Yuk...

Wajah Fannie penuh keringat sesampainya di Taman Ayodia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dari rumahnya di Kompleks Kostrad, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jum'at (12/2) pagi. Sepeda kuningnya kemudian di parkir persis di depan gerbang taman itu. Setelah melepaskan tas punggung, dia melepaskan helm dan kaca mata hitam, pelengkap bersepeda.

Fannie kemudian menyeka keringat dengan handuk kecil. Di taman tersebut perempuan yang kini menjadi staf Humas Bike To Work (B2W) Indonesia itu bertemu dengan teman-teman sesama pesepeda yang juga baru datang dari berbagai sudut Jakarta. Begitu bertemu, mereka memanfaatkan waktu istirahat yang hanya sebentar itu untuk ngobrol.

Pagi itu pesepeda mengenakan kaos warna kuning menyala bertuliskan Pasal 284 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu-Lintas. "Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepada dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp.500.000."

Di ujung kaos itu masih ada pesan lain, "Berbagi jalan yuk..." Mereka menamakan diri sebagai Komunitas RoSela alias Rombongan Selatan, seperti tulisan tegas di kaos bagian depan. "Nama panjangnya RoSela Damayanti," kata Koordinator RoSela Ichsan Djumadrin alias Icang tentang nama komunitasnya itu sambil tertawa.
 

RoSela Damayanti kepanjangan dari Rombongan Selatan Damai Indah Menawan Hati. Saat itu berkumpul sekitar 30 pesepeda dari pojok-pojok selatan Jakarta, seperti Ciputat, Pamulang dan Bintaro. Sebagian besar pesepeda yang tergabung dalam RoSela memang tinggal di wilayah Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Itu sebabnya, 'anak' dari B2W Indonesia ini memberi nama Rombongan Selatan. Para pesepeda itu banyak yang bekerja kantoran di kawasan Jendral Sudirman, Thamrin dan Kuningan. Icang menyatakan Taman Ayodya sebenarnya menjado tikum (titik kumpul) kedua bagi bagi para pesepeda RoSela setelah Menara BCA di kawasan Pondok Indah.

Setiap Jum'at pukul 06.10, Icang dan kawan-kawan berkumpul di bawah Menara BCA. Sekitar 20 menit kemudian, mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Ayodya. Dari taman itu para pesepeda tersebut berkumpul dengan anggota komunitas yang lain. Setelah itu berangkat bersama-sama ke kantornya masing-masing.

Jika masih ada waktu sebelum masuk kantor, pesepeda yang bekerja kantoran itu akan mampir sejenak di sebuah warung makan di Bendungan Hilir, JakPus, untuk sarapan. Sementara yang tidak bekerja, biasanya akan kembali ke rumah atau hang out ke tempat lain.  Sara Siregar (21) misalnya, begitu teman-temannya menuju ke kantor, Sara memutuskan pulang ke rumahnya di Bintaro.

Mahasiswi tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci ini baru beberapa bulan bergabung bersama RoSela. "Semula hanya sepedaan di komplek rumah. Tiba-tiba ada yang ngeracunin agar mau bersepeda di jalan raya," kata Sara yang semula dijemput dan diantar pulang dengan sepeda oleh anggota RoSela ini.

Icang menceritakan, RoSela merupakan salah satu wilayah B2W Indonesia yang ada sejak agustus 2007. Awalnya banyak sepeda yang ikut-serta dalam mailing list B2W Jakarta Selatan sejak 2005. Semakin hari banyak pesepeda yang sering berkumpul bareng hingga berwisata kuliner dengan sepeda. Jumlahnya kini lebih dari 300 pesepeda.


B2W Indonesia akhirnya sepakat agar RoSela dibentuk untuk mewadahi pesepeda di Jakarta Selatan dan sekitarnya. B2W juga mengumpulkan para pesepeda di wilayah Jakarta. Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara bergabung dalam Komunitas Timut, dan pesepeda Jakarta Barat membuat Komunitas Robar (Rombongan Jakarta Barat).

Komunitas Rogad alias rombongan gado-gado, terdiri atas anggota B2W dari Kramatjati, Kalibata, Cawang dan sekitarnya. "kami berkumpul saat digelarnya kegiatan car free day. Saat ini kami sedang mengkampanyekan jalur sepeda di Jakarta," kata Icang.

Menurut Nico Alfian yang 'dituakan' oleh anggota Komunitas RoSela, jalur sepeda di Jakarta sangat dirindukan oleh orang-orang yang gemar menggunakan sepeda sebagai moda transportasinya. Sayangnya, para pesepada saat ini masih harus bersinggungan dengan kendaraan lain karena belum memiliki jalur sepeda.

"Saat ini kami menunggu ide dari Walikota Jakarta Selatan Syahrul Effendi untuk membuat jalur sepeda mulai Lebak Bulus sampai Sisingamangaraja," kata Nico. "Aturan tentang jalur sepeda juga belum jelas," tambah Icang.

Para penggiat sepeda di Jakarta juga berharap Gubernur DKI Fauzi Bowo dapat segera membangun jalur sepeda di Ibu Kota. Kini, saatnya berbagi jalan yuuukk...

(Irwan Kintoko)
Sumber : Warta Kota, Kamis, 18 Februari 2007 hal. 4